top of page

Pelacur

  • Gambar penulis: Rahman Hanif
    Rahman Hanif
  • 18 Mei 2018
  • 2 menit membaca

Semangat nasionalisme dan rela berkorban tidak hanya dimonopoli seorang aktivis, intelektual, dan orang berada. Melainkan masyarakat biasa pun punya hak dan tanggung jawab yang sama dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah peran para “pelacur” atau “wanita tuna susila.” Partisipasi mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan RI mendapat apresiasi dari Bung Karno waktu itu. Sejarah mencatat ada sekitar 670 WTS di kota Bandung menjadi anggota PNI, bahkan ikut berjuang melawan penjajahan.

“Pelacur” meski kata itu tak enak didengar, namun Bung Karno sangat menghormati mereka. Bahkan kepada Cindy Adams, Bung Karno pernah berujar, bahwa ketika ia mendirikan PNI, tiba-tiba ada ratusan pelacur mendaftarkan diri menjadi anggota partai PNI. Dalam sebuah kesempatan, Bung Karno memuji pelacur itu, karena memiliki keberanian yang luar biasa dan layak mendapat acungan jempol.

Bung Karno mengatakan, “Ratusan WTS itu punya loyalitas dan nasionalisme yang tinggi. Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, dan bahkan nyawa demi kemerdekaan Indonesia serta kepentingan pergerakkan.”

Tapi waktu itu, di internal PNI terjadi perdebatan sengit, antara Bung Karno Vs Ali Sastro Amidjojo, terkait masuknya 670 WTS ke dalam organisasi PNI. “Sangat memalukan!” Ali Sastro menyampaikan ketidak-setujuaannya atas putusan Bung Karno saat itu. “Kita merendahkan nama dan tujuan PNI memakai perempuan sundal. Kalau Bung Karno bisa memaafkan saya karena memakai nama itu. Ini sungguh memalukan!” kecam Ali Sastro sengit. “Lantas kenapa?” sergah Bung Karno tak kalah sengitnya, sambil berujar “Mereka (para pelacur itu) menjadi orang revolusioner terbaik. Saya tidak mengerti pendirian Bung Ali Sastro yang sempit ini.” “Ini melanggar susila!” kata Ali Sastro masih menyerang Bung Karno dengan sengitnya. “Lantas apakah Bung Ali pernah menanyakan alasan mengapa saya mengumpulkan para perempuan pelacur itu?” tanya Bung Karno, yang dijawab sendiri, “Sebab saya menyadari, bahwa saya tidak akan bisa maju tanpa suatu kekuatan. Saya memerlukan tenaga manusia, sekali pun itu pelacur. Bagi saya, persoalannya bukan bermoral atau tidak bermoral. Tetapi tenaga yang ampuh dan mumpuni, itulah satu-satunya yang kuperlukan.” Ali mempertahankan protesnya dengan mengatakan, “Kita cukup mempunyai kekuatan tanpa mendidik wanita pelacur ini. PNI punya cabang di seluruh Tanah Air dan semuanya berjalan tanpa anggota pelacur. Hanya di Bandung, kita melakukan hal seperti ini. Memalukan!” Bung Karno cepat menukas, “Dalam pekerjaan ini, gadis-gadis pelacur atau apa pun nama yang diberikan kepadanya, adalah orang-orang penting.” Dalam kesempatan itu, Bung Karno memberi ultimatumnya kepada Ali bahwa, “Anggota lain dapat kulepas. Akan tetapi, melepaskan perempuan pelacur ini… tunggu dulu!”

Dengan tenang, Bung Karno mengurai alasan memasukkan 670 pelacur ke dalam PNI. Salah satunya dengan mengumpulkan referensinya, ia menyebut tokoh Madame de Pompadour.

Semua tahu, siapa Madame de Pompadour? Wanita ini, tak lain seorang pelacur kelas tinggi, tetapi bisa memainkan peran politiknya hingga menjadi salah satu selir Raja Louis XV, tahun 1745 – 1750.

Setelah mendengarkan penjelasan Bung Karno secara seksama, Ali Sastro terdiam, tak bisa lagi mendebat. Walaupun ekspresi di wajahnya kecewa, ia berusaha untuk tidak melanjutkan perdebatannya dengan Bung Karno. Akhirnya 670 pelacur dari Bandung itu diposisikan sebagai mata-mata atau informannya Bung Karno.

Postingan Terakhir

Lihat Semua
Tetes Penghabisan Ngurah Rai

I Gusti Ngurah Rai merupakan pahlawan nasional asal Bali yang dikenal karena rasa nasionalisme yang tinggi. Dia dan pasukannya, Ciung...

 
 
 

Komentar


Urip iku

Urup

© 1602
Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara

bottom of page