indONEsia
- Rahman Hanif

- 17 Jul 2015
- 2 menit membaca
Indonesia dimulai dengan suatu "kemumpungan".
Yang terjadi pada subuh, 17 Agustus 1945 adalah gambaran sebuah kebersamaan dalam impian. Negara - atau ilusi negara- yang 350 tahun dipiara oleh Belanda, mendadak runtuh oleh serbuan Jepang, maka Jepang berkuasa. Mendadak Jepang kalah, maka terjadi tempo sende vecante. Jadi, setelah power-napping, pukul 09:00, Bung Karno, di depan orang-orang yang nggak banyak membaca teks singkat yang alhamdulillahnya adalah hasil ketikan. Bukan tulisan yang penuh coretan diatas kertas yang disobek dari buku tulis merek "555".

"... menyatakan kemerdekaan INDONESIA."
Indonesia. Nggak jelas banget arti nama ini. Cuma dulunya, tahun 1925 kata ini dipake oleh pemuda yang nggak sabar hidup dibawah kolonialisme. Terus dipake lagi 3 tahun kemudian dalam sebuah hasil kongres yang disebut Sumpah Pemuda. Masalahnya Indonesia waktu itu dari mana sampai mana. Terus, siapa aja yang bisa jadi Bangsa Indonesia?
Menteng, Juni 1945, nama Indonesia dibahas dalam sebuah cara yang lebih resmi oleh panitia yang bertugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Tapi, apa yang sebenarnya ada di dalam nama "Indonesia"? "Indonesia" adalah bangsa yang tidak berada di bawah kekuasaan bangsa lain. "Indonesia" adalah bangsa yang menolak segala jenis kolonialisme. "Indonesia" adalah tempat dimana ada 250 juta insan al-kamil yang hidup bahagia di bawah kolong langit buatan Allah Subhanahu Wata'ala. Di sinilah paragraf paling pas buat ditutup dengan teriakan "MERDEKA!!".
Jadi, "mumpung" Jepang nggak punya kekuatan lagi meskipun masih memiliki hak dan kewajiab untuk menjaga keamanan ibu kota, dan "mumpung" Belanda masih jauh, ya lahirlah Indonesia.

Masa "mumpung" itu sangat singkat. "Mumpung" itu selalu diisi kecemasan tentang siapa yang akan mengambil langkah pertama, namun sejarah menceritakan masa "mumpung" itu dengan something yang ada di dalam diri setiap bangsa "Indonesia" yang memungkinkan untuk mengambil langkah pertama. Sebuah langkah yang menghilangkan dahaga akan kemerdekaan. Tetep perlu digarisbawahi, tidak akan ada kekuatan politik apapun yang mampu menghapus dahaga akan konsep kemerdekaan dalam kenegaraan. Tidak ada Gading yang tidak Martin.
"Mumpung" adalah cue yang menjanjikan, penuh kemungkinan, beresiko, tapi juga kemustahilan.
Pengalaman Indonesia yang tragis tentang "kemumpungan" - mumpung kita mayoritas Islam, kenapa nggak jadiin aja negara Islam, hasilnya adalah sesuatu yang digambarkan oleh Ramdan KH, "Priangan Si Jelita". Mumpung pemimpin besar revolusi ngemention Komunis, kenapa nggak sekalian aja dijadikan negara komunis? Kembali darah harus tertumpah- yang mencoba merumuskan apa itu "Indonesia" tapi tidak berhasil.
Saat ini "Indonesia" dirumuskan sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi.
Namun, "mumpung" saat ini Indonesia masih bagus-bangusnya dalam berdemokrasi, jangan lupa bahwa Indonesia dimulai dengan "kemumpungan" juga. Tidak ada yang kekal dan insya Allah, akan kembali lagi masa "mumpung" dan seseorang mengambil langkah utuk mengisinya.
Komentar