top of page

"Allah saja maha pemaaf, apalagi saudara muslim semua pasti mau memaafkan kecerobohan saya ini.

  • Gambar penulis: Rahman Hanif
    Rahman Hanif
  • 30 Okt 2017
  • 2 menit membaca

Di satu sisi, logika Aa Gym di atas sudah umum, setidaknya tidak sedikit orang yang menggunakannya, terutama orang-orang yang sudah kepepet atau ketahuan salah. Namun di sisi lain, kita perlu cermati apakah logika tersebut benar ataukah salah. Perhatikan kalimat yang saya tulis tebal dan miring.

Saya tidak jarang mendengar logika seperti ini dari sejumlah orang, sekalipun dengan redaksi yang berbeda. Ada beberapa redaksi lain dengan maksud yang sama. Misalnya,

“Allah saja maha pemaaf, masak kita makhluk-Nya tidak mau memaafkan.”

Atau

“Allah saja memaafkan, masak kita tidak?” Dalam pemahaman saya, logika dalam kalimat-kalimat di atas aneh dan ganjil. Di mana letak ganjilnya? Yakni, membandingkan Allah (Tuhan) dengan manusia, dengan menempatkan Tuhan justru di bawah manusia.

Lebih singkat lagi, logika di atas merendahkan Tuhan di atas manusia. “Tuhan saja memaafkan, masak kita tidak?”

Ini adalah ungkapan yang menempatkan manusia lebih pemaaf daripada Tuhan. Bukankah Tuhan adalah Dzat Yang Maha Pemaaf, yang maafnya lebih luas daripada langit dan bumi, sedangkan manusia, apa atuh, ia memiliki nafsu dan hina. Masa membandingkan kehinaan manusia dengan kemuliaan Tuhan dalam hal ampunan. Logika di atas adalah terbalik.

Logika terbalik ini setara dengan ungkapan berikut,

“Orang dewasa saja bisa menyetir mobil sendiri, masak anak kecil tidak bisa?”

Ini kan logika yang aneh. Kalau ungkapannya begini baru benar, “Anak kecil saja bisa menyetir mobil sendiri, masak orang dewasa tidak bisa?” Jika pun mau menyebut orang dewasa dulu, ungkapan yang benar adalah seperti berikut, “Orang dewasa saja bisa menangis, maka apalagi anak kecil.” Nah, berkaitan dengan logika dalam ungkapan Aa Gym di atas, kalau ungkapannya seperti berikut ini, baru benar perbandingannya, “Jika manusia yang lemah saja mampu memaafkan kesalahan saudaranya, masak Tuhan yang Maha Pemaaf tidak mengampuninya?” Ini baru proporsional dan logis. Adapun apa yang diucapkan oleh A Gym di atas jelas merupakan logika yang terbalik dan bikin otak “melilit”. Kalau kita perhatikan berbagai ungkapan harian di antara sesama, mungkin juga kita menemukan berbagai kalimat lain yang mengganggu logika sehat. Lalu apa sikap kita? Jika memungkinkan, kita mendiskusikan untuk memperbaikinya.

Jika tidak, mungkin kita hanya berkerut. Yang parah, kita bisa saja ikut-ikutan menggunakan ungkapan dengan logika aneh dan ganjil itu. Apalagi jika ungkapan itu sudah lazim dan umum digunakan oleh banyak orang. Berpikir logis adalah sebuah keharusan dan kebiasaan yang benar.

Sayangnya, tidak semua orang terbiasa dengannya, atau bahkan tidak mempedulikannya. Dan di tengah orang-orang yang terbiasa berlogika ganjil, bersiap-siaplah kita terbawa ganjil juga…

Tapi, jangan sampai lah....

 
 
 

Postingan Terakhir

Lihat Semua
Membaca Fakta G30S/ PKI

30 September 2015, tepat 50 tahun peringatan sejarah Peristiwa Gerakan 30 September (G 30 S) tahun 1965 yang didalangi oleh Partai...

 
 
 
Melihat Banjir Jakarta

MUSIM hujan sudah datang. Berita tentang banjir Jakarta bermunculan kembali di surat kabar. Pemerintah pun masih terus berusaha...

 
 
 

Komentar


Urip iku

Urup

© 1602
Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara

bottom of page