top of page

Pierre Poivre Si Buntung dan Runtuhnya Pasar Rempah Dunia

  • Gambar penulis: Rahman Hanif
    Rahman Hanif
  • 1 Okt 2018
  • 3 menit membaca

Aksi spionase melambungkan nama Pierre Poivre sebagai penyelundup nomor wahid di dunia.

Modus Pierre Poivre bergabung dengan ordo gereja hanya untuk memuaskan hasrat petualangannya dan keliling dunia gratis. Hasilnya dia telah 4 tahun berkelana di Timur, 2 tahun di Cina, 2 tahun di Vietnam.

5 Februari 1745, dalam perjalanan pulang ke Prancis, kapal Dauphin yang ditumpanginya dicegat kapal Deptford berbendera Inggris di Selat Bangka, ujung Timur pantai Sumatera. Dua kapal itu saling serang. Lengan kanan Poivre cedera kena tembak. Setelah pertempuran singkat, Dauphin pun diambil alih Inggris.

Sehari kemudian, lelaki kelahiran Lyon, 23 Agustus 1719 yang berstatus tawanan itu mendapati dirinya di meja operasi dadakan. Potongan tangan kanannya yang membusuk sudah dibuang ke laut.

Dengan hanya satu lengan, karir misionaris alumni lembaga pendidikan Missions Etrangeres di Paris tersebut bermasalah. Dia tak dapat mentasbihkan roti suci.

Sesampai di Batavia, sebagaimana ditulis Bernard Dorleans dalam buku Orang Indonesia & Orang Prancis, kapal rampasan itu dilego ke pihak Belanda. Para tawanan dilepas begitu saja. 4 bulan lamanya Poivre luntang lantung di Batavia. Sesekali dia diberi tumpangan, sembari memulihkan luka. Bahkan ada wanita yang kerap memberinya uang.

Berbekal uang itu, pria 26 tahun tersebut mulai melancong, meluaskan pergaulan. Hiruk pikuk Batavia sebagai bandar rempah-rempah terbesar di dunia segera menginspirasi. "Dalam banyak perbincangan, orang-orang pun tak khawatir berbagi informasi dengan si cacat," tulis Jack Turner dalam buku Sejarah Rempah.

Poivre pun memainkan lakonnya. Dia mendulang informasi sebanyak-banyaknya. Hingga dia paham betul betapa kuat dan ketatnya kendali dagang Belanda atas rempah-rempah.

Pemerintah Hindia Belanda mengharamkan adanya sepetak kebun rempah di luar kendalinya. Bila kedapatan yang diam-diam menanam rempah tanpa izin pemerintah Hinda Belanda, ganjarannya hukuman mati dan kebunnya dibakar. Diatara informasi yang dihimpunnya, dia juga mendapat info keberadaan kebun-kebun rempah ilegal yang tak terjangkau patroli Belanda.

Pendeknya, selama di Batavia, Poivre mengantongi segudang informasi penting perihal seluk-beluk rempah-rempah dari beragam kalangan.

Poivre mendapat ide untuk memutus monopoli VOC dengan cara mencuri bibit rempah dari kebun ilegal dan menanamnya di wilayah koloni Prancis.

Sepuluh tahun kemudian, Februari 1755. Kapal La Colombe tiba di Meyo, pulau terpencil di Kepulauan Maluku. Di atasnya ada pria Prancis bertangan buntung; Pierre Poivre. "Tidak ada yang dapat menghibur saya setelah sampai begitu dekat dengan pulau itu, yang begitu subur akan cengkihnya," tulis Poivre otobiografinya Voyages d'un philosophe (perjalanan sang filsuf).

Rencana yang sudah sejak lama disusunnya memang matang. Namun apa daya, angin tiba-tiba datang dari arah berlawanan.

"Mengapa saya tidak memiliki kapal yang lebih baik untuk dipakai dalam ekspedisi penting ini?" lanjutnya. Saat kapalnya terseokseok dibawa angin ke arah Selatan, Ia harus mengerek bendera Belanda agar tak ditangkap oleh kapal Belanda yang lewat, tulis Jack Turner. Sesampai di Timor, Poivre bisa sedikit bernafas lega. Ia mendapatkan benih pala dari Portugis yang menguasai pulau itu. Benih itu dibawanya menyeberangi Samudera Hindia ke Mauritius koloni Prancis.

Karena gagal tumbuh, orang-orang mulai menuding dia kena tipu Portugis dengan membeli benih palsu. Pupus sudah mimpi Poivre. Setahun kemudian dia mudik ke Eropa. Di kampung halaman, dia menulis buku Voyages d'un philosophe yang menceritakan pengalaman hidupnya. Judul itu, yang berarti Perjalanan Sang Filsuf menarik perhatian banyak orang. Termasuk seorang menteri dalam kabinet Louis XV. Poivre mendapat dukungan negara atas ide yang dictuliskan dalam bukunya.

Pada 1767, dia kembali ke Timur. Kini, ia mempekerjakan orang lain untuk resiko yang dulu ditempuhnya. Evrard de Tremignon dan le sieur d'Etcheverry yang dapat diandalkan di Samudera Hindia direkrut untuk menangani kapal Vigilant dan kapal Etoile du Matin.

Januari 1770 mereka berlayar ke Maluku. Pada 25 Juni, mereka kembali dengan penuh kemenangan. Lebih kurang 20 ribu bibit pala dan 300 benih cengkih dari Maluku ditanam di Mauritius, persisnya di Jardin du Roi. Panen pertama cengkih pada 1776, disusul panen pala dua tahun berikutnya dikirimkan secara simbolis kepada Raja Prancis. Bibit tersebut juga disebar ke Mahe, Seychelles koloni baru Prancis di Samudera Hindia.

Jauh hari kemudian, pada 1818, nama Poivre masih diagungagungkan karena keturunan cengkih selundupannya tumbuh spektakuler di Madagaskar, Pemba dan Zanzibar.

Impian sang penyelundup berhasil. Bahkan, aksinya tak sekadar memutus monopoli Belanda atas rempah-rempah. Seiring meluasnya perkebunan rempah, pasarannya ambruk. Zaman manakala sekantong rempah dibarter dengan sekantung emas di Eropa pun, tinggal kenangan.

Dalam hikayat rempahrempah, Pierre Poivre si tangan buntung digadang-gadang sebagai simbol ambruknya zaman kejayaan rempah-rempah dunia.

 
 
 

Postingan Terakhir

Lihat Semua
Membaca Fakta G30S/ PKI

30 September 2015, tepat 50 tahun peringatan sejarah Peristiwa Gerakan 30 September (G 30 S) tahun 1965 yang didalangi oleh Partai...

 
 
 
Melihat Banjir Jakarta

MUSIM hujan sudah datang. Berita tentang banjir Jakarta bermunculan kembali di surat kabar. Pemerintah pun masih terus berusaha...

 
 
 

Komentar


Urip iku

Urup

© 1602
Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara

bottom of page